Travel : Fort Rotterdam Makassar


Untuk kalian yang berada di Makassar, tentu sudah tidak asing lagi dengan Fort Rotterdam. Salah satu benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo ini bisa jadi pilihan objek wisata selain Pantai Losari. Lokasi benteng yang berada di pusat kota menjadi faktor utama. Apalagi bagi kalian yang memiliki waktu terbatas untuk berkeliling seperti saya. Fort Rotterdam menjadi pilihan yang tepat.

Hal yang terpikirkan ketika mengunjungi suatu tempat baru adalah berkeliling sepuasnya. Mulai dari tempat bersejarah, kuliner, hingga wisata belanja. Tapi, realita tidaklah sesuai dengan harapan bukan? Waktu yang sangat terbatas terkadang membuat kita malas untuk berkeliling. Hal tersebut sering sekali terjadi dengan saya. Namun jika memiliki waktu (terbatas), sebelum berada di kota tersebut saya selalu memastikan destinasi apa saja yang berada tidak jauh dari lokasi menginap.

Saya mengunjungi Fort Rotterdam sekitar pukul 12.00 WITA. Ramai. Satu kata yang menggambarkan kondisi destinasi ini. Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang. Di dalam benteng ini berdiri berbagai macam bangunan gedung. Di antaranya Museum La Galigo dan Ruang Tahanan Pangeran Diponegoro. Untuk masuk ke lokasi cukup memberikan uang seikhlasnya di gerbang utama. Namun jika ingin melihat isi Museum La Galigo, kita wajib membeli tiket 5.000 rupiah saja. 







Sepertinya selain menjadi objek wisata, Fort Rotterdam difungsikan untuk kegiatan belajar ataupun perkumpulan para pecinta sejarah. Di beberapa titik dapat ditemukan anak - anak berlatih drama maupun bahasa inggris bersama pengajar native. Terdapat pula, tempat para seniman diantaranya seniman lukisan tanah liat. Mereka membuka pelatihan lukis dan menjual lukisannya (tentu saja foto tidak boleh diambil untuk menghargai sang pelukis). Bahan sederhana namun hasilnya sangat menakjubkan. Rata - rata menggambarkan alam dan laut. 



Aura berbeda dirasakan ketika memasuki museum La Galigo. Antara takjub namun merinding. Museum ini terbagi menjadi dua gedung. Saya menyebutnya gedung utara dan selatan benteng. Di dalam gedung utara berisi sejarah Kerajaan Gowa-Tallo. Dari Kerajaan Gowa kita mengenal Sultan Hasanuddin. Sedangkan di gedung selatan dapat kita lihat terkait berbagai kebudayaan yang ada di Sulawesi termasuk benda - benda peninggalan kerajaan, literatur, hingga teknologi yang dibuat pada masa tersebut. Saat berbincang dengan penjaga museum, mereka dengan ramah menjelaskan pertanyaan yang kita ajukan. Saya beruntung dapat berbincang dengan salah satu penjaga di lokasi museum tersebut. Kita sebut saja Uncle R. Beliau menjelaskan mulai dari asal mula berdirinya benteng ini hingga pandangan terkait wisatawan yang datang. 








Kata wisatawan menarik perhatian saya. Sebagai salah satu wisatawan domestik, sangat disayangkan dibeberapa tempat terdapat coretan tangan. Alay? iya. Mereka dengan bangga menuliskan nama dan tanggal ketika berada disini. Belum lagi coretan ungkapan cinta. Sepertinya dari dulu hingga sekarang, masih ada beberapa wisatawan yang belum memiliki kepedulian untuk menjaga objek wisata.  Sangat disayangkan.

Fakta lainnya yang menarik, wisatawan yang mengunjungi museum La Galigo lebih sedikit (sangat sedikit) bila dibandingkan dengan mereka yang berada di luar museum. Kebanyakan memilih untuk duduk - duduk santai di halaman benteng.

Walaupun demikian, destinasi ini bisa jadi pilihan yang tepat untuk mengenal keanekaragaman Indonesia. Setiap sudut benteng pun dapat menjadi objek foto maupun background foto yang cantik. Sampai bertemu ditempat selanjutnya :)

Share this:

, , ,

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment

//]]>